Senin, 29 Agustus 2011

Penyakit Pada Sistem Ekskresi

I. GINJAL


1. Asidosis tubulus renalis (ATR) atau Renal tubular acidosis (RTA)



=>Dalam keadaan normal, ginjal menyerap asam sisa metabolisme dari darah dan membuangnya ke dalam urin. Pada penderita penyakit ini, bagian dari ginjal yang bernama tubulus renalis tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga hanya sedikit asamyang dibuang ke dalam urin. Akibatnya terjadi penimbunan asam dalam darah, yang mengakibatkan terjadinya asidosis, yakni tingkat keasamannya menjadi di atas ambang normal.
Penyebab:
Biasanya dokter tidak dapat memastikan penyebab ATR. Namun diduga penyakit ini disebabkan faktor keturunan atau bisa timbul akibat obat-obatan, keracunan logam berat atau penyakit autoimun (misalnya lupus eritematosus sistemik atau sindroma Sj√∂gren).
Dampak:
Penyakit asidosis jika dibiarkan akan menimbulkan dampak sebagai berikut:
  • Rendahnya kadar kalium dalam darah. Jika kadar kalium darah rendah, maka terjadi kelainan neurologis seperti kelemahan otot, penurunan refleks dan bahkan kelumpuhan
  • Pengendapan kalsium di dalam ginjal yang dapat mengakibatkan pembentukan batu ginjal. Jika itu terjadi maka bisa bisa terjadi kerusakan pada sel-sel ginjal dan gagal ginjal kronis. 
  • Kecenderungan terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan)
  •  Pelunakan dan pembengkokan tulang yang menimbulkan rasa nyeri (osteomalasia atau rakitis).
  • Gangguan motorik tungkai bawah merupakan keluhan utama yang sering ditemukan, sehingga anak mengalami keterlambatan untuk dapat duduk, merangkak, dan berjalan.
  • Kecenderungan gangguan pencernaan, karena kelebihan asam dalam lambung dan usus, sehingga pasien mengalami gangguan penyerapan zat gizi dari usus ke dalam darah. Akibat selanjutnya pasien mengalami keterlambatan tumbuh kembang (delayed development) dan berat badan kurang 
Pengobatan: 
Sementara ini penanganan ATR baru sebatas terapi untuk mengontrol tingkat keasaman darah, yaitu dengan memberikan obat yang mengandung zat bersifat basa (alkalin) secara berkala (periodik), sehingga tercapai tingkat keasaman netral, seperti pada orang normal. Zat basa ini mengandung bahan aktif natrium bikarbonat (bicnat).
Jika pasiennya anak-anak, maka kalau menggunakan obat dalam bentuk tablet, tablet tersebut harus digerus terlebih dulu sebelum digunakan. Setelah itu dicampur dengan air matang, lalu diberikan kepada pasien. Sedangkan jika menggunakan bentuk bubuk dan cairan, tinggal dicampur air matang lalu diberikan kepada pasien, sesuai dengan dosis yang ditentukan dokter.



2. Batu Ginjal 

=> massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).
Penyebab:

Terbentuknya batu bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan penghambat pembentukan batu yang normal. Sekitar 80% batu terdiri dari kalsium, sisanya mengandung berbagai bahan, termasuk asam urat, sistin dan mineral struvit.
Batu struvit (campuran dari magnesium, amonium dan fosfat) juga disebut “batu infeksi” karena batu ini hanya terbentuk di dalam air kemih yang terinfeksi. Ukuran batu bervariasi, mulai dari yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sampai yang sebesar 2,5 sentimeter atau lebih. Batu yang besar disebut “kalkulus staghorn”. Batu ini bisa mengisi hampir keseluruhan pelvis renalis dan kalises renalis.
Gejala:
Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalismaupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam. Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin menjadi sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter. Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal.
Pengobatan:
Batu kecil yang tidak menyebabkan gejala, penyumbatan atau infeksi, biasanya tidak perlu diobati. Minum banyak cairan akan meningkatkan pembentukan air kemih dan membantu membuang beberapa batu; jika batu telah terbuang, maka tidak perlu lagi dilakukan pengobatan segera. Batu di dalam pelvis renalis atau bagian ureter paling atas yang berukuran 1 sentimeter atau kurang seringkali bisa dipecahkan oleh gelombang ultrasonik (extracorporeal shock wave lithotripsy, ESWL). Pecahan batu selanjutnya akan dibuang dalam air kemih. Kadang sebuah batu diangkat melalui suatu sayatan kecil di kulit (percutaneous nephrolithotomy, nefrolitotomi perkutaneus), yang diikuti dengan pengobatan ultrasonik. Batu kecil di dalam ureter bagian bawah bisa diangkat dengan endoskopi yang dimasukkan melalui uretra dan masuk ke dalam kandung kemih. Batu asam urat kadang akan larut secara bertahap pada suasana air kemih yang basa (misalnya dengan memberikan kalium sitrat), tetapi batu lainnya tidak dapat diatasi dengan cara ini. Batu asam urat yang lebih besar, yang menyebabkan penyumbatan, perlu diangkat melalui pembedahan.
Adanya batu struvit menunjukkan terjadinya infeksi saluran kemih, karena itu diberikan antibiotik.

Dapat diobati dengan Calcium I + Cordyceps dengan cara pemakaian :

·        3 x 2 – 4 kapsul Cordyceps sehari (tergantung kondisi, pada beberapa kasus diminum dalam jumlah besar hingga 20 kapsul sehari)

·         4 x ½ sachet Calcium I sehari
     Pencegahan:
Tindakan pencegahan pembentukan batu tergantung kepada komposisi batu yang ditemukan pada penderita. Batu tersebut dianalisa dan dilakukan pengukuran kadar bahan yang bisa menyebabkan terjadinya batu di dalam air kemih.


3. Gagal Ginjal

=>suatu kondisi di mana kedua ginjal mengalami kerusakan permanen dan tidak dapat menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Biasanya ditandai dengan edema seluruh tubuh (edema anasarka) karena terjadinya hipertensi portal dan kadar klirens kreatinin < 25.
Penyebab:
Terjadinya gagal ginjal disebabkan oleh beberapa penyakit serius yang di dedrita oleh tubuh yang mana secara perlahan-lahan berdampak pada kerusakan organ ginjal. Adapun beberapa penyakit yang sering kali berdampak kerusakan ginjal diantaranya hipertensi, diabetes mellitus, dan kanker.
Gejala:
 Adapun tanda dan gejala terjadinya gagal ginjal yang dialami penderita secara akut antara lain: Bengkak mata, kaki, nyeri pinggang hebat (kolik), kencing sakit, demam, kencing sedikit, kencing merah/darah, sering kencing. Kelainan Urin: Protein, Darah/Eritrosit, Sel Darah Putih/Lekosit, Bakteri. Sedangkan tanda dan gejala yang mungkin timbul oleh adanya gagal ginjal kronik antara lain: Lemas, tidak ada tenaga, nafsu makan kurang, mual, muntah, bengkak, kencing berkurang, gatal, sesak napas, pucat/anemi.
Pengobatan:
Diet penurunan intake sodium, kalium, protein, dan cairan, minum obat serta terapi, atau transplantasi ginjal.

4. Nefritis 

=> kerusakan bagian glomerulus ginjal akibat infeksi kuman biasanya disebabkan oleh bakteri streptococcus.
Penyebab:
Peradangan ginjal biasanya disebabkan oleh infeksi, seperti yang terjadi pada pielonefritis atau suatu reaksi kekebalan yang keliru dan melukai ginjal
Gejala:
hematuria (darah di dalam air kemih), proteinuria (protein di dalam air kemih), kerusakan fungsi hati, yang tergantung kepada jenis, lokasi dan beratnya reaksi kekebalan.
Akibat: 
akan menderita uremia atau edema. uremia adalah masuknya kembali urine (C5H4N4O3) dan urea ke dalam pembuluh darah sedangkan edema adalah penimbunan air di kaki karena terganggunya reabsorpsi air.
Pengobatan:
meminum obat sesuai anjuran dokter

5. Glukosuria

=> ekskresi glukosa ke dalam urin. Seharusnya air seni tidak mengandung glukosa, karena ginjal akan menyerap glukosa hasil filtrasi kembali ke dalam sirkulasi darah.
Penyebab:
simtoma hiperglisemia yang tidak mendapatkan perawatan dengan baik, walaupun gangguan instrinsik pada ginjal kadang-kadang juga dapat menginduksi glikosuria. Simtoma ini disebut glikosuria renal dan sangat jarang terjadi.
Gejala:
tidak menimbulkan gejala atau efek yang serius
Akibat:
dehidrasi karena air akan terekskresi dalam jumlah banyak ke dalam air seni melalui proses yang disebut diuresis  osmosis.
Diagnosa:
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan air kemih rutin, dimana di dalam air kemih ditemukan glukosa meskipun kadar glukosa dalam darah adalah normal.
Pengobatan:
tidak memerlukan pengobatan, meskipun terkadang akan berkembang menjadi diabetes.

6. Hematuria


=> ditandai adanya sel darah merah dalam urine.
Penyebab:
adanya peradangan pada organ urinaria atau karena iritasi akibat gesekan batu ginjal.
Pengobatan:
pengobatan tergantung penyebabnya. infeksi saluran kemih menggunakan antibiotik, batu ginjal meminum banyak air putih, bila kanker lakukan pembedahan

7. Albuminuria


=> adanya molekul albumin dan protein lain dalam urine.
Penyebab:
adanya kerusakan pada alat filtrasi
Pengobatan:
menurunkan asupan daging merah dapat membantu dalam menurunkan kadar albuminuria


II Hati


1. Hepatitis


=> peradangan pada hati karena toxin, seperti kimia atau obat ataupun agen penyebab infeksi. hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut "hepatitis akut", hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan disebut "hepatitis kronis"
Penyebab:
terjadi karena virus, terutama salah satu dari virus hepatitis, yaitu A,B,C,D atau E. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan.


macam-macam hepatitis:
*hepatitis A : Virus hepatitis A terutama menyebar melalui tinja. Penyebaran ini terjadi akibat buruknya tingkat kebersihan. Di negara-negara berkembang sering terjadi wabah yang penyebarannya terjadi melalui air dan makanan.
*hepatitis B :  Penularannya tidak semudah virus hepatitis A. Virus hepatitis B ditularkan melalui darah atau produk darah. Penularan biasanya terjadi di antara para pemakai obat yang menggunakan jarum suntik bersama-sama, atau di antara mitra seksual (baik heteroseksual maupun pria homoseksual).Ibu hamil yang terinfeksi oleh hepatitis B bisa menularkan virus kepada bayi selama proses persalinan. Hepatitis B bisa ditularkan oleh orang sehat yang membawa virus hepatitis B.
*hepatitis C : paling sering ditularkan melalui pemakai obat yang menggunakan jarum bersama-sama. Jarang terjadi penularan melalui hubungan seksual. Untuk alasan yang masih belum jelas, penderita "penyakit hati alkoholik" seringkali menderita hepatitis C.
*hepatitis D : Hanya terjadi sebagai rekan-infeksi dari virus hepatitis B dan virus hepatitis D ini menyebabkan infeksi hepatitis B menjadi lebih berat. Yang memiliki risiko tinggi terhadap virus ini adalah pecandu obat.
*hepatitis E :  Virus hepatitis E kadang menyebabkan wabah yang menyerupai hepatitis A. Gejala mirip hepatitis A, demam, pegel linu, lelah, hilang nafsu makan, dan sakit perut. Penyakit yang akan sembuh sendiri ( Self – Limited ), kecuali bila terjadi pada saat kehamilan, khususnya trimester ketiga, dapat mematikan. Penularan melalui air yang terkontaminasi feses.
*hepatitis G : Jenis baru dari virus hepatitis yang telah terdeteksi baru-baru ini. Gejala serupa hepatitis C, seringkali infeksi bersamaan dengan hepatitis B dan/atau C. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan ataupun hepatitis kronik. Penularan melalui transfusi darah jarum suntik.


Gejala:
*hepatitis A : demam, sakit kuning (jaundice), mual (malaise), kelelahan, dan gatal-gatal yang dapat bertahan sampai beberapa bulan. Kotoran (tinja) mungkin tampak abu-abu pucat dan urin akan muncul gelap. 
*hepatitis B :  akan terlihat seperti sakit ringan semisal flu, demam ringan, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, kelelahan, atau otot atau nyeri sendi. Beberapa pasien memiliki tanda khas yaitu urin gelap dan penyakit kuning (jaundice), ini adalah patokan yang biasanya gejala hepatitis yang akan dicari oleh dokter jika mencurigai hepatitis B.
*hepatitis C : Jika gejala awal yang terjadi, mereka cenderung sangat ringan dan menyerupai flu dengan kelelahan, mual, kehilangan nafsu makan, demam, sakit kepala, dan sakit perut. Orang yang memiliki gejala-gejala biasanya cenderung mengalami mereka sekitar 6 – 7 minggu setelah terpapar virus. Beberapa orang mungkin tidak mengalami gejala hepatitis selama sampai 6 bulan setelah terkena. Orang yang memiliki hepatitis C masih bisa menularkan virus tersebut kepada orang lain.
Pengobatan:
*hepatitis A: tidak banyak beraktifitas, makan makanan yang mengandung vitamin A
*hepatitis B: Pengobatan oral, injeksi
*hepatitis C: Memberi obat interferon alfa dan ribavirin.


2. Batu Empedu


=>timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu. Batu yang ditemukan di dalam kandung empedu disebut kolelitiasis, sedangkan batu di dalam saluran empedu disebut koledokolitiasis.
Penyebab:
Komponen utama dari batu empedu adalah kolesterol, sebagian kecil lainnya terbentuk dari garam kalsium. Cairan empedu mengandung sejumlah besar kolesterol yang biasanya tetap berbentuk cairan. Jika cairan empedu menjadi jenuh karena kolesterol, maka kolesterol bisa menjadi tidak larut dan membentuk endapan di luar empedu.
Gejala:
Penderita seringkali merasakan nyeri, mual dan muntah. Jika terjadi infeksi bersamaan dengan penyumbatan saluran, maka akan timbul demam, menggigil dan sakit kuning (jaundice). Biasanya penyumbatan bersifat sementara dan jarang terjadi infeksi.
Komplikasi:
* Perdarahan
* Peradangan pankreas (pankreatitis).
* Perforasi atau infeksi saluran empedu.
Pada 2-6% penderita, saluran menciut kembali dan batu empedu muncul lagi.

Pencegahan:
sebaiknya menghindari makanan berkolesterol tinggi yang pada umumnya berasal dari lemak hewani.
Pengobatan:
-Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Nyeri yang hilang-timbul   bisa dihindari atau dikurangi dengan menghindari atau mengurangi makanan berlemak.
-Memberi obat yang mengandung asam dan garam empedu, ditembak dengan sinar laser, atau diangkat bersama kantung empedunya.


3. Kanker Hati


=>tumor maligna , baik dalam jaringan itu sendiri (primary liver cancer) atau secondary liver cancer ( dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain). 
Penyebab:
Penyalahgunaan alkohol, atau infeksi kronis dengan penyakit seperti hepatitis B dan C, hemochromatosis (terlalu banyak zat besi dalam hati),sirosis, tidur terlalu malam, zat pengawet makanan
Gejala:
Hepatomegali (pembesaran hati), sakit perut, ikterus.
Pengobatan:

Pembedahan,Terapi radiasi,Kemoterapi, Kemoembolisasi, Terapi gen, Cryotherapy, Ablasi radiofrekuensi, Transplantasi.


4. Sirosis Hati


=>kemunduran fungsi liver yang permanen yang ditandai dengan perubahan histopatologi. Perubahan histopatologi yang terjadi menyebabkan peninggian tekanan pembuluh darah pada sistem vena porta. Sebagai akibat dari peninggian tekanan vena porta, terjadi varises esophagus dan bila pecah terjadi muntah darah warna hitam (hematemesis).
Penyebab:
infeksi virus hepatitis (virus hepatitis B dan C), perlemakan hati (fatty liver), peminum alkohol yang rutin dalam waktu lama, obat – obatan yang menganggu fungsi liver dalam waktu yang lama, jamu – jamuan, makanan dengan bahan pengawet.
Gejala:
yang biasa dialami penderita sirosis dari yang paling ringan yakni lemah tidak nafsu makan, hingga yang paling berat yakni bengkak pada perut, tungkai, dan penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan fisik pada tubuh penderita terdapat palmar eritem, spider nevi.
Pengobatan:
menghindari hal yang dapat memperberat fungsi hati, pemberian obat untuk melancarkan metabolisme hati. Pengobatan yang paling definitif adalah tranplantasi hati, tetapi hingga saat ini kemajuan teknologi kedokteran dan penyulit yang terjadi pada penderita dengan sirosis hati, masih belum memberikan hasil yang baik.


5. Penyakit Kuning


=>Sakit kuning merupakan gejala awal pada gangguan fungsi liver ( hati ), penyumbatan saluran empedu atau disebabkan obat-obatan yang mengganggu fungsi hati, atau pada saat adanya gangguan metabolisme Bilirubin ( Substansi yang diproduksi pecahan sel darah merah).
Penyebab:


Tingginya kadar bilirubin pada tubuh manusia. Dapat terjadi pada kulit atau bagian putih pada mata
Gejala:
Mata dan kulit yang kuning, air kemih sering berwarna gelap, hilangnya nafsu makan, mual-muntah dan demam.
Pengobatan:
Jika penyebabnya adalah penyakit hati (misalnya hepatitis virus), biasanya jaundice akan menghilang sejalan dengan perbaikan penyakitnya. Jika penyebabnya adalah penyumbatan pada saluran empedu, biasanya dilakukan pembedahan atau endoskopi sesegera mungkin, untuk membuka saluran yang tersumbat.

6. Fatty Liver

=>suatu keadaan di mana adanya penimbunan lemak yang berlebihan di sel-sel liver.
Penyebab:
Alkohol, obat-obatan, Gangguan maupun perubahan hormonal misalnya kehamilan, Metabolic syndrome, Diabetes, Penurunan berat badan yang drastis dan kekurangan gizi, Gaya hidup modern, banyak makan kalori tinggi, Kegemukan/Kelebihan berat badan terutama lemak di perut, Toxicity.
Gejala:
Fatty liver jarang menimbulkan keluhan, karena penimbunan lemak ini terjadinya secara perlahan-lahan. Gejala klinis yang dikeluhkan penderita yaitu perut terasa penuh, ini disebabkan karena lemak kebanyakan menumpuk di hati bagian atas, perut daerah ulu hati kadang-kadang terasa keras. Pada waktu penyakit bertambah parah, mungkin penderita  akan mengalami rasa lelah, sakit di sekitar perut, dan lemah. Biasanya penderita tidak tahu kalau ia menderita fatty liver, dan mereka baru tahu setelah melakukan check up lengkap karena penyakit lainnya.
Pengobatan:
sesuai penyebabnya. jika kegemukan maka turunkan  berat badan yang aman adalah 1/2 kg per minggu, jika tinggi trigliserid, turunkan. jika konsumsi alkohol hindari alkohol. jika diabetes kendalikan diabetes. Pola makan dan gaya hidup harus diubah.  Makanlah makanan bergizi seimbang, sehat dan tingkatkan aktivitas tubuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar